Regalia News – Presiden Prabowo Subianto memberikan sejumlah arahan strategis untuk penguatan pendidikan tinggi nasional dalam Taklimat Presiden Republik Indonesia bersama Rektor dan Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri Tahun 2026 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Arahan tersebut menitikberatkan pada perluasan akses beasiswa, penguatan pendidikan sains dan teknologi, serta pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan nasional.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa para rektor dan guru besar mengapresiasi forum dialog langsung dengan Presiden. Bahkan, mereka mengusulkan agar taklimat serupa dapat digelar secara rutin.
“Ada permohonan juga dari para rektor dan guru besar agar forum-forum seperti ini bisa lebih dirutinkan kembali,” ujar Prasetyo kepada awak media.
Dalam taklimat itu, Presiden Prabowo menerima laporan bahwa jumlah mahasiswa pendidikan tinggi di Indonesia saat ini mencapai sekitar 9,9 juta orang. Namun, jumlah penerima beasiswa baru sekitar 1,1 juta mahasiswa.
Menanggapi kondisi tersebut, Presiden menginstruksikan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Kementerian Sekretariat Negara untuk melakukan penghitungan ulang dan merumuskan kebijakan baru guna memperluas penerima beasiswa secara signifikan.
“Bapak Presiden memberikan arahan agar kami menghitung ulang dan memformulasikan kembali bagaimana memperbesar sebanyak-banyaknya penerima beasiswa,” kata Prasetyo.
Presiden Prabowo juga menekankan penguatan pendidikan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Kepala Negara mengarahkan agar alokasi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) lebih difokuskan pada bidang tersebut.
“Beliau berharap proporsinya bisa di atas 80 persen, karena kita perlu mengejar ketertinggalan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ungkap Prasetyo.
Selain itu, Presiden menyoroti kekurangan tenaga kesehatan, khususnya dokter dan dokter spesialis.
Pemerintah telah menyiapkan dua langkah utama, yakni memperbesar daya tampung program studi kedokteran dan pendidikan dokter spesialis, serta membuka fakultas kedokteran baru.
“Yang kedua, mau tidak mau kita harus memberanikan diri untuk membuka fakultas baru untuk kedokteran umum,” jelasnya.
Presiden juga menekankan penguatan pendidikan dokter gigi, farmasi, dan teknologi kesehatan, seiring perkembangan peralatan medis berbasis teknologi.
Terkait pembentukan fakultas-fakultas baru, pemerintah masih melakukan identifikasi lokasi dan kebutuhan.
“Masih dalam proses identifikasi, sebaiknya ada di mana dan berapa yang diperlukan,” pungkas Prasetyo.
Sumber : Setkab RI