Regalia News – Sore itu layar besar di Hambalang menampilkan wajah-wajah yang pernah viral di media sosial—anak-anak sekolah dari Nias Selatan yang dahulu harus menyeberangi sungai demi pergi ke sekolah.
Kini mereka berdiri di hadapan Presiden Prabowo Subianto, bukan lagi sebagai kisah kesulitan, tetapi sebagai simbol harapan.
Di antara mereka ada Yamisa Zebua, siswa kelas 12 berusia 17 tahun. Dialah anak yang dulu berani menyampaikan keluhan langsung kepada Presiden melalui video yang kemudian tersebar luas di media sosial. Kini, setelah jembatan yang mereka impikan berdiri, Yamisa menyampaikan rasa terima kasih.
“Terima kasih atas semua bantuan yang telah Bapak berikan kepada kami,” kata Yamisa dengan suara tenang namun penuh keyakinan.
Saat video viralnya diputar, Presiden langsung mengenali wajahnya.
“Yamisa, itu kamu. Kamu itu ya? Berani sekali kau teriak-teriak ke Presiden,” ujar Presiden sambil tersenyum. “Tapi justru karena kau teriak-teriak, aku langsung dengar.”
Namun bagi Yamisa, jembatan bukan satu-satunya hal yang ingin ia sampaikan. Di balik ucapan terima kasih itu, ia membawa pesan lain tentang harapan anak-anak desa terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Izin Pak, tentang MBG. MBG-nya masih belum sampai di sekolah kami,” ujar Yamisa dengan jujur.
Presiden tampak terkejut. “Belum sampai?” tanyanya.
“Iya, Pak. Orang tua kami tidak mampu,” jawab Yamisa.
Pernyataan sederhana itu menggambarkan realitas yang masih dihadapi banyak anak di daerah terpencil: akses pendidikan mulai membaik, tetapi kebutuhan dasar seperti gizi masih menjadi tantangan.
Presiden pun merespons langsung. Ia menegaskan pemerintah akan memperjuangkan agar program tersebut segera menjangkau sekolah Yamisa dan teman-temannya.Sore itu.Senin, 9 Maret 2026
“Saya perjuangkan supaya segera MBG sampai ke sana,” kata Presiden.
Bagi Yamisa, program makan bergizi gratis bukan sekadar kebijakan pemerintah, melainkan kebutuhan nyata yang ia dan teman-temannya rasakan setiap hari.
Ketika Presiden menyebut ada pihak yang menganggap program tersebut tidak perlu, Yamisa menjawab tanpa ragu.
“Itu bohong, Pak,” katanya tegas.
Jawaban spontan itu membuat suasana pertemuan menjadi hangat. Bagi Presiden, keberanian Yamisa bukan sekadar keberanian seorang siswa berbicara kepada kepala negara, melainkan tanda kepemimpinan yang tumbuh dari pengalaman hidup.
Di balik percakapan singkat itu tersimpan gambaran tentang Indonesia hari ini: anak-anak desa yang dulu harus menyeberangi sungai kini memiliki jembatan, dan kini mereka berharap juga memiliki akses gizi yang layak.
Sebelum percakapan berakhir, Yamisa sempat menyampaikan harapan lain—tentang jalan desa yang rusak dan sekolah yang perlu diperbaiki. Presiden mendengarkan semuanya dengan saksama.
Pesan terakhir Presiden kepada Yamisa sederhana, tetapi penuh makna.
“Belajar yang benar, ya.”
Di tempat seperti Nias Selatan, sebuah jembatan bukan sekadar konstruksi baja dan beton. Ia adalah jalan menuju sekolah, jalan menuju mimpi, dan jalan menuju masa depan.
Sumber : Setkab RI

