Regalia News – Pelataran Sekolah Rakyat menjadi saksi pertemuan hangat antara orangtua dan anak dalam kunjungan rutin bulanan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.
Suasana haru dan bahagia menyatu dalam perbincangan ringan yang ditemani bekal makanan dari rumah, mengurai rindu yang terpendam selama sebulan berpisah.
Program Sekolah Rakyat yang digagas melalui Kementerian Sosial tersebut memberikan kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mengenyam pendidikan berasrama dengan fasilitas yang memadai. 23 Februari 2026
Kunjungan ini menjadi momen penting bagi orangtua atau wali murid untuk melihat langsung perkembangan anak-anak mereka.
Pasangan Srikatun Suroso (53) dan Gustaria (46), warga Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, termasuk di antara orangtua yang datang sejak pagi untuk menjenguk putri mereka, Kinanti (13), siswa kelas 1 SRMP 2 Kota Medan.
“Perkembangannya banyak, kalau enggak ada SR (Sekolah Rakyat) ini kan, enggak bisa sekolah anak kami,” ujar Suroso dengan suara bergetar.
Suroso mengaku kekhawatirannya terhadap kondisi sang putri berkurang setelah melihat langsung sistem asrama berjalan dengan baik, menurutnya, kebutuhan makan hingga kesehatan siswa dipantau secara rutin oleh wali asrama.
“Di sini termasuk bagus. Dari makanannya, dari kesehatannya, semua dipantau sama wali asrama,” imbuhnya.
Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Kinanti tumbuh dalam keterbatasan ekonomi keluarga. Suroso yang bekerja serabutan sebagai buruh bangunan dan Gustaria yang berjualan sayur keliling serta ikan teri dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari, harus membiayai empat anak yang semuanya masih bersekolah.
Kini, perubahan positif terlihat pada diri Kinanti. Ia dinilai lebih disiplin, teratur, dan memiliki sikap yang lebih baik.
“Anak SR itu kebersamaannya ada. Kalau di lingkungan masing-masing kan ibaratnya bandelnya saja yang ada. Jadinya masuk SR berguna sekali, disiplin dia, sikap dia berubah semua,” kata Suroso.
Gustaria pun mengaku terbantu dengan kehadiran Sekolah Rakyat. Menurutnya, tanpa program tersebut, besar kemungkinan anaknya kesulitan melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya.
“Jualannya pun enggak terlalu banyak, pas-pasan kami. Makanya ini adiknya Kinanti pun masih sekolah, kakaknya juga. Berat kalau enggak ada Sekolah Rakyat. Takut enggak sekolah, karena enggak mampu,” ungkapnya.
Kesempatan bersekolah itu datang melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Seluruh kebutuhan Kinanti, mulai dari makan bergizi, seragam, hingga tempat tinggal di asrama, ditanggung sepenuhnya.
Suroso bahkan melihat perubahan fisik putrinya yang semakin sehat.
“Kalau di sini gizinya bagus, ada ikan. Makannya cepat besar, cepat gemuk. Waktu pulang naik lima kilo, enggak pernah turun berat badannya,” tuturnya.
Bagi Suroso, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan harapan untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka masa depan yang lebih baik bagi anaknya.
“Sekolah Rakyat ini merupakan sekolah untuk orang-orang yang enggak mampu. Ke depannya itu anak-anak jadi bangkit. Umpamanya enggak bisa sekolah, jadi bisa sekolah.
“Keinginan dia kerja pun ada. Hobi dia disalurkan. Kalau dia mau cita-cita apa, terjadilah impian-impian anak-anak itu. Terima kasih Pak Prabowo dan Menteri Sosial,” pungkasnya.
Sumber : Komdigi