Generasi Penerus Yang Mandiri

Generasi Penerus Yang Mandiri

Telah terjadi percakapan antara seorang guru dan murid muridnya didalam sebuah kelas, guru itu memberikan nasehat kepada mereka untuk lebih bersemangat dalam belajar, agar cita cita mereka dapat tercapai.

“Anak anak, kalian adalah generasi penerus bangsa ini, belajarlah yang rajin supaya kalian bisa jadi dokter, pilot, tentara, polisi, hakim, pengacara atau yang lainnya. kelak kalian akan menjadi orang yang terhormat ditengah masyarakat”. ucap guru tersebut.

kalimat tersebut telah membekas didalam hati dan pikiran penulis sampai detik ini, sehingga ‘virus’ itu telah memotivasi penulis untuk selalu belajar belajar dan belajar. Peristiwa itu terjadi 30 tahun yang lalu disaat penulis masih duduk dikelas 6 sekolah dasar.

Jika kita cermati lebih dalam kalimat guru tersebut, sangatlah masuk akal bila dilihat dari perspektif teori, sebab hanya SDM yang kompeten yang mampu untuk menjadi ‘orang orang’ seperti itu. Dan tentunya para murid pun harus menempuh pendidikan formal sebagai syarat yang mutlak dalam proses meraih cita cita yang diinginkannya.

Namun untuk prakteknya, ungkapan tersebut butuh kajian yang lebih luas untuk penjelasannya, diantaranya dengan memperhatikan beberapa faktor pendukungnya. Sebab antara murid yang satu dan yang lainnya tentu akan memiliki perbedaan dalam hal keuangan, keluarga, kemampuan akademi, jaringan relasi, ataupun kesempatan.

Ketika para murid mulai memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti SMP atau SMA bahkan hingga tingkat perguruan tinggi, barulah proses ‘seleksi alam’ mulai berperan dalam menentukan bisa atau tidaknya harapan itu tercapai.

Sebab difase inilah beragam alasan akan kita temukan dalam mencapai keberhasilan ataupun kegagalan yang diraih oleh para murid dalam mewujudkan cita cita nya tersebut.

Bagi sebagian para orang tua yang memiliki uang tentu akan selalu memotivasi anaknya untuk terus bersekolah, Bahkan diutamakan bisa masuk kesekolah favorit ataupun sekolah unggulan dengan harapan agar anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Selain itu, sisi positif dari sekolah favorit atau unggulan adalah banyak terdapat para orang tua yang berpengaruh, baik profesi pekerjaannya ataupun sebagai tokoh masyarakat.

Sehingga bila sang anak memiliki relasi kelas menengah keatas, tentunya akan membantu mereka dikemudian hari dalam mengembangkan diri dengan memberdayakan potensi jaringan relasi yang sudah tercipta.

Bisa dikatakan bahwa ‘para orangtua’ akan selalu menciptakan berbagai peluang dan kesempatan dalam memuluskan perjalanan sang anak dalam proses meraih mimpi dan cita citanya

Dalam kasus ini, sang anak hanya dituntut untuk menguasai materi saja (belajar), sedangkan berbagai kebutuhan yang berkenaan dengan itu semua sudah tersedia, seperti biaya pendidikan maupun fasilitas fasilitas lainnya yang berperan sebagai penopang aktivitas anaknya.

Bahkan pada kasus lainnya, para orang tua yang berkategori mampu akan rela mengeluarkan dana yang begitu besar agar anaknya bisa masuk kesekolah yang menjanjikan masa depan, seperti STPDN, AKPOL, AKMIL, KEDOKTERAN dan sebagainya. Bahkan tak jarang sang ayah melobi relasi tertentu supaya anaknya dapat belajar di institusi pendidikan tersebut.

Sehingga bila sang ayah pensiun, anaknya dapat melanjutkan jejak sang ayah. karna setelah lulus dari pendidikan tersebut, anaknya sudah pasti mendapatkan jabatan jabatan tertentu, untuk selanjutnya meniti jenjang karier kearah yang lebih tinggi lagi

Sebab yang penulis fahami tentang ‘generasi penerus’ adalah, sebuah generasi yang melanjutkan jejak sang pendahulu untuk mengisi kekosongan sebuah profesi tertentu atau hal lainnya, karena masanya akan berakhir.

agar aktivitas tersebut tetap berjalan maka dibutuhkan generasi penerus untuk melanjutkan aktivitas pendahulunya dalam upaya melestarikan profesi profesi yang dimaksud.

Fenomena seperti itu sangat terlihat jelas dalam kehidupan disekitar kita, sehingga estafet kepemimpinan dalam dunia profesi maupun birokrasi terkesan sebagai warisan keluarga.

Bisa dibayangkan apabila seorang Kepala Daerah memiliki adik yang menjadi Kepala Dinas, sepupunya menjadi anggota DPRD, ataupun kerabat dekatnya berpfofesi sebagai penegak hukum baik Jaksa, Polri maupun Tni atau lainnya,

Maka dengan mudahnya mereka ‘meracik ramuan’ untuk mempertahankan sebuah kekuasaan keluarga agar dapat terus bertahan sampai batas yang tidak ditentukan, selama masih ada generasi yang melanjutkannya

praktek nepotisme dalam mempromosikan sebuah jabatan tidak dilihat dari prestasi yang sudah dibuat, tetapi kedekatan secara emosional ataupun balas budi terhadap kolega, seperti keluarga, kerabat, ataupun kawan dekat.

Hal itu bukanlah sebuah isapan jempol belaka, sebuah praktek yang sudah lazim dilakukan dalam upaya memperpanjang sebuah kekuasaan keluarga dengan mengedepankan faktor SDM ( SeDareMare ).
“Merekalah generasi penerus”.
…………………………………………………………….

Namun bagi siswa yang memiliki orangtua berprofesi biasa biasa saja, tentu ceritanya lain. Meskipun niat untuk menyekolahkan anaknya sangat besar tetapi keadaan jugalah yang membuat para orangtua harus mengubur keinginannya dengan alasan keterbatasan biaya dan lainnya, akhirnya mereka hanya memasukkan anaknya disekolah yang biasa biasa saja, dengan alasan yang penting bersekolah. setidaknya bisa membaca, menulis maupun berhitung.

sebab Tidak sedikit dari mereka dalam membiayai anak anaknya bersekolah pun harus pinjam sana dan sini demi menutupi kebutuhan anak anaknya agar tetap bersekolah. Sehingga dalam pemikiran mereka, yang penting anak anaknya bisa bersekolah minimal lulusan SLTA, agar kelak bisa dijadikan ‘modal’ untuk mencari pekerjaan.

Sebut saja namanya udin, dia adalah siswa yang berprestasi dalam hal pelajaran. Namun ‘keadaan’ membuatnya harus berhenti sekolah karna ayahnya tidak sanggup membiayai lagi, sehingga dia harus mengorbankan masa depannya untuk meraih cita-citanya. sebab secara moral dia harus bertanggung jawab untuk membantu ayahnya dalam menafkahi keluarganya agar tetap bertahan hidup.

Satu sisi orangtua udin tidak memiliki relasi yang bisa membantunya untuk dapat melanjutkan pendidikan anaknya, sehingga dia hanya pasrah dengan keadaan yang seharusnya masih bisa diperjuangkan

Bila dikaitkan dengan ucapan sang guru, tentunya si udin termasuk murid yang tidak bisa menjadi generasi penerus, dia masuk dalam bagian ‘generasi terus menerus’ berada dilevel bawah dalam kehidupan sosial masyarakat

Sementara itu begitu banyak kasus udin udin lainnya kita jumpai dengan ragam kasus yang berbeda, semua itu semata mata dilandasi oleh satu kata, ‘karena mereka tidak mampu secara finansial dan memiliki pola fikir yang stagnan’.

Ada sebuah ungkapan yang bila kita hayati maknanya sungguh begitu nyata. “dunia ini tempatnya orang pintar bermain main, dan tempatnya orang bodoh bersusah hati”

Namun bukan berarti yang bodoh tidak bisa bangkit dari kebodohannya, mereka harus merubah pola fikir dengan memotivasi diri bahwa sebuah perubahan harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh untuk meraihnya.

Sebab terjadinya sebuah kemiskinan dikarnakan adanya kebodohan, hal ini merupakan sebuah kenyataan yang terjadi disekitar kehidupan kita. Bila kita selalu berdiam diri saja, maka tentunya akan selalu tercipta generasi yang ‘terus menerus’ dari zaman kezaman.

Berbeda dengan cara yang dilakukan orang pintar, mereka berfikir selangkah lebih maju dalam ‘menata kehidupan’, sedangkan bagi sibodoh mereka hanya berprinsip apa yang terjadi hari ini jalani saja, tanpa ada strategi alternatif dalam mensikapi hari esok.

Menurut sebagian orang, pendidikan formal bukanlah syarat mutlak bagi seseorang untuk bisa sukses dikemudian hari, hal itu benar adanya mengingat banyak sekali orang yang sukses diberbagai bidang, tetapi mereka tidak menjalani pendidikan formal. (sekolah SD SMP SMA bahkan Kuliah).

Hanya dengan bermodalkan kerajinan, ketekunan, serta tekad yang kuat ditambah keahlian (skil) dan menciptakan relasi, maka orang tersebut sudah mampu menciptakan peluang untuk menjadi generasi super (berdiri diatas kaki sendiri).

Umumnya orang orang seperti ini berfikiran ‘sadar diri’ dalam memanfaatkan fasilitas ataupun menciptakan fasilitas bagi mereka, dengan kata lain semua serba diusahakan sendiri tanpa bergantung pada seorang

Banyak juga diantara generasi super tersebut berasal dari keluarga yang biasa biasa saja, maupun keluarga terhormat. Mereka berhasil mengembangkan potensi dirinya dalam menciptakan sebuah peluang tanpa memanfaatkan fasilitas dari kedua orangtuanya

Sehingga segala keberhasilan yang diraihnya merupakan sebuah prestasi yang patut ditiru bagi semua kalangan, yakni keberhasilan yang didapatkan dengan cara ‘Berdiri diatas kaki sendiri’.

Irfan maulana, S.sos (Alumni Fisip UMRAH)



This post has been seen 818 times.
Share